Dampak kerusakan gempa dan tsunami di Jepang
Gempa dan tsunami dahsyat yang melanda Jepang, mengisahkan cerita yang serupa dengan bencana-bencana lain. Dengan letusan Gunung Merapi di Magelang, tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam, gempa di Cili dan Iran, banjir bandang di berbagai negara Eropa, dan lainnya. Kisah apakah itu? Terperangkap pada angka!
Tak percaya? Simak saja rangkaian berita setelah peristiwa bencana terjadi. Kita disibukkan dengan paparan data-data statistik: berapa skala richter gempanya; berapa tinggi gelombang tsunaminya; berapa jumlah korban luka dan meninggal dunia; berapa rumah dan bangunan yang hancur; berapa jumlah kerugian; dan seterusnya.
Salahkah itu? Tentu saja tidak. Pada tahap awal, angka-angka itu memang sangat diperlukan. Tapi yang lazim terjadi justru tidak demikian. Kita terus “disandera” oleh statistik. Dari hari ke hari perbincangan kita berkutat pada berapa jumlah korban plus kerugiannya dan berapa uang yang dibutuhkan untuk merehabilitasi. Pun demikian halnya media massa.
Terperangkap pada angka adalah bukti nyata jika kita masih terus melakukan intelektualisasi bencana. Sekali lagi, pada tahap permulaan, intelektualisasi bencana sangat penting. Namun, ketika itu terus dilakukan, maka kita lupa pada hal yang sepatutnya harus kita kerjakan yakni spiritualisasi bencana.
Apa yang kita pikirkan saat melihat berita yang menayangkan dahsyatnya gelombang tsunami? Kebanyakan kita merasa takut, ngeri, merinding, dan sejenisnya. Segala perasaan ini, disadari atau tidak karena pikiran kita terus dicekoki dengan intelektualisasi bencana.
Kita merasa takut pada tsunami karena membayangkan ketinggian gelombangnya. Tapi kita lupa pada siapa Yang Menciptakan tsunami. Kita takjub pada kedahsyatan gempa karena mampu meluluhlantakkan ribuan rumah. Tapi kita lupa pada siapa Yang Menciptaka gempa? Kita ngeri melihat letusan Gunung Merapi karena membayangkan lava pijar dan wedhus gembel. Tapi kita tak gemetar dengan Zat Yang Menciptakan letusan tersebut. Itu semua terjadi karena kita tak pernah melakukan spiritualisasi bencana.
Apa itu spiritualisasi bencana? Ini adalah kondisi dimana kita melihat segala bencana yang datang dari kacamata spiritualitas. Tsunami, gempa, banjir dan sebagainya adalah bukti kemahabesaran Allah. Begitu mudah Allah membuat tsunami setinggi 10 meter dan menerjang seluruh benda yang ada dihadapannya. Begitu mudah Allah membuat gempa berkekuatan 9 skala richter yang merubuhkan bangunan. Sederhananya: spiritualisasi bencana menjadi alat bagi kita untuk mengingat Allah.
Sesungguhnya, perilaku kita yang selalu lupa melakukan spiritualisasi bencana, sama persis dengan kelakukan kita sehari-hari. Saat kita makan nasi, adakah yang ingat siapa yag membuat nasi? Kita tak ingat dengan petani yang bekerja keras di sawah sepanjang hari untuk menanam padi. Kita hanya asyik masyuk di meja makan menyantap nasi yang tersaji.
Saat kita mengenakan pakaian bagus, adakah yang ingat dengan siapa yang membuat pakaian tersebut? Kita tak ingat dengan penjahit yang bekerja keras menjahit pakaian kita, siang dan malam. Kita tak ingat dengan buruh pabrik yang membuat kancing baju.
Ketika kita naik mobil, adakah yang ingat siapa yang membuatnya? Kita tak ingat dengan perakit mesinnya. Kita tak ingat dengan orang-orang yang memasangkan murnya. Kita tak ingat dengan mereka yang memasangkan rodanya.
Begitu banyak daftar ketakingatan kita. Namun kita tak pernah menyadarinya. Berbagai bencana yang datang silih berganti adalah cara Allah agar kita mengingat-Nya. Jika kemudian kita tak juga mau mengingat-Nya, dengan cara apalagi Allah harus menegur kita?


